

WASHINGTON, D.C. | brigadepasopati.com — Lanskap politik Amerika Serikat mengalami guncangan hebat setelah Partai Demokrat mencetak kemenangan bersejarah dan mengamankan kendali penuh atas Kongres dalam Pemilu Sela (Midterm Elections) 2026. Berdasarkan proyeksi akhir dari hitung cepat global termasuk The Associated Press dan NBC News, Partai Demokrat sukses menguasai Senat AS dengan 54 kursi (merebut 7 kursi oposisi) serta mengamankan mayoritas mutlak di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan perkiraan 245 hingga 255 kursi.
Kemenangan telak yang dijuluki media Eropa sebagai, “tsunami biru historis” ini berhasil menumbangkan dominasi Partai Republik, bahkan di wilayah basis kuat mereka seperti Lowa, Kansas, North Carolina, Ohio, South Carolina, dan Texas. Pergeseran kekuasaan Legislatif ini secara dramatis akan memperketat fungsi pengawasan (checks and balances) terhadap sisa masa jabatan kedua Presiden Donald Trump.

Merespons hasil Pemilu tersebut, Presiden Donald Trump menyampaikan ucapan selamat kepada kubu oposisi dalam wawancaranya bersama CBS News. “Selamat untuk Demokrat, dan saya tidak sabar untuk bekerja sama dengan Anda demi kebaikan negara kita,” ujar Presiden Donald Trump. Kendati demikian, Presiden Donald Trump membela performa politiknya dengan menambahkan, “Saya tidak ada di dalam surat suara… Jika nama saya ada di sana, kita pasti menang.” Mengenai kekalahan Partainya, Presiden Donald Trump menyebut kepada Fox News bahwa pemilih kemungkinan besar, “Tidak menyukai kandidat yang diusung.”
Di sisi lain, kekalahan ini memicu perdebatan internal yang tajam di dalam Pemerintahan. Wakil Presiden JD Vance secara terbuka melalui media sosialnya menunjuk kebijakan luar negeri Pemerintah khususnya dampak ekonomi akibat ketegangan militer dengan Iran sebagai penyebab utama runtuhnya suara Republik. “Jika Anda ingin berargumen bahwa kehilangan Senat selama 6 tahun ke depan sepadan dengan ongkos perang tersebut, silakan berargumen demikian,” ungkap JD Vance.
Presiden Donald Trump kemudian mengakui kebenaran analisis Vance tersebut secara bersyarat saat berbicara di Gedung Putih. Menurut Presiden Donald Trump, klaim tersebut, “Sebagian besar benar karena perang sempat menaikkan harga bensin dalam jangka pendek. “Namun, Presiden Donald Trump menegaskan tidak menyesali keputusan militernya, “Jika saya harus mengulanginya lagi, saya akan tetap melakukannya karena dalam jangka panjang ini adalah satu-satunya jawaban. Anda tidak bisa membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.”
Kemenangan mutlak Demokrat ini memicu berbagai respons global. Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, menyampaikan ucapan selamat atas, “Kemenangan pemilu yang sungguh luar biasa,” sementara Perdana Menteri Norwegia, Jonas Gahr Støre, menilai hasil ini sebagai, “Sinyal politik yang kuat mengenai perubahan arah dari para pemilih Amerika. “Dari Afrika Selatan, Presiden Cyril Ramaphosa menyatakan bahwa pergeseran ini akan, “Memulai era baru dalam hubungan dunia.” (*)