160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Pahami Sejarah Untuk Masa Depan Bangsa: HMD Ilmu Sejarah UNAIR Gelar SENJATA 2026 Bersama PAPELS

750 x 100 AD PLACEMENT

SURABAYA | brigadepasopati.com – Himpunan Mahasiswa Departemen (HMD) Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) sukses menyelenggarakan kegiatan SENJATA 2026 (Sejarah Eksistensi Jati Diri dan Transformasi) di Gedung De Javasche Bank, Surabaya, pada Sabtu (3/10/2026). Mengusung tema “Moral, Folklore, dan Konstruksi Gender dalam Sejarah”, acara ini dirangkai dalam bentuk seminar dan pameran seni yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan krusialnya landasan sejarah dalam pembangunan masa depan bangsa.

Ketua HMD Ilmu Sejarah UNAIR, Verdi Yudha Pratama, menegaskan pentingnya pemahaman sejarah dalam menuntun arah perjalanan bangsa. Menurutnya, sebuah bangsa yang berdiri di atas pijakan sejarah yang kuat akan memiliki landasan yang jauh lebih kokoh dalam merumuskan strategi pembangunan dan mencapai kemajuan. “Memahami sejarah merupakan hal penting dalam membangun arah masa depan bangsa. Bangsa yang memiliki pijakan sejarah yang kuat dalam menentukan arah pembangunan akan lebih mampu mencapai kemajuan,” ujar Verdi Yudha.

 

750 x 100 AD PLACEMENT

Dengan rangkaian kegiatan SENJATA 2026 diharapkan mampu memberikan dampak positif secara luas, baik dalam menumbuhkan kesadaran sejarah di masyarakat maupun menjadikannya sebagai fondasi utama dalam merancang masa depan.

 

Acara seminar SENJATA 2026 menghadirkan dua narasumber, yaitu Dhany T. Saputra (Direktur Riset Kanal Sejarah Mesin Waktu) yang memberikan materi “Evolusi Norma dalam Sejarah”, serta Ilham Baskoro, S.Hum. (Mahasiswa Magister Kajian Sastra dan Budaya FIB UNAIR) yang membawakan materi “Moral, Folklore, dan Konstruksi Gender dalam Sejarah”. Diskusi ilmiah ini dipandu oleh Klara Trivani selaku Moderator.

750 x 100 AD PLACEMENT

Dalam pemaparan Dhany T. Saputra, disampaikan tentang sejarah norma, masyarakat pra-norma (pre-norm society), yang merupakan era dimana manusia berinteraksi satu sama lain namun belum memiliki aturan atau pedoman perilaku yang baku secara formal maupun disepakati bersama. “Manusia secara naluri akan menggunakan instingnya untuk mencegah bahaya yang timbul darinya atau orang lain melalui proses mengamati, mengambil tindakan, dan menyimpulkan konsekuensi yang didapat dari perbuatan yang dilakukannya. Akibatnya, banyak korban baik jiwa atau benda bermunculan selama proses ini berlangsung,” ungkap Dhany T. Saputra.

Selanjutnya dalam pemaparan materi Ilham Baskoro disampaikan bahwa tradisi dan budaya bisa berubah. Perpindahan dari ruang komunitas ke industri budaya seringkali menjadii proses komodifikasi dan reduksi makna. Contoh fenomena Paradigma Mistis: disakralkan vs dikomersialisasi dalam film horor. Perubahan fungsi: dari tradisi sakral menjadi atraksi wisata (komodifikasi). Pembangunan infrastruktur mengancam hutan adat. “Makna dalam tradisi selalu diperebutkan ketika konteks sosial berubah, studi historis membantu memahami kekuatan-kekuatan yang menegosiasikan perubahan itu,” terang Ilham Baskoro.

 

750 x 100 AD PLACEMENT

Momen penting lainnya dalam kegiatan ini adalah hadirnya jajaran PAPELS (Persaudaraan Anak Pejuang Empat Lima Surabaya), yang menandai awal kolaborasi erat serta momentum pengenalan organisasi para penerus pejuang kemerdekaan kepada publik. Dalam kesempatan tersebut, Pemrakarsa sekaligus Dewan Pendiri PAPELS, Charles E. Tumbel, secara resmi memperkenalkan diri kepada Akademisi, Mahasiswa, masyarakat umum dan menyampaikan apresiasi serta dukungannya terhadap inisiatif Mahasiswa HIMA/HMD Ilmu Sejarah UNAIR. “Diperlukan kepedulian tinggi dari generasi muda untuk merawat sejarah dan kemauan keras untuk mempelajari peristiwa-peristiwa di masa lalu supaya bangsa kita bisa benar-benar menjadi besar, berdaulat, bermartabat, adil, makmur serta sejahtera. Jikalau tidak, maka bangsa kita malahan tercerai-berai, hancur-lebur dijajah kembali oleh bangsa lain,” jelas Charles E. Tumbel.

Sementara Tri Retno Suqryanti, Dewan Pendiri PAPELS serta Dewan Penasihat DPD PAPELS Kota Surabaya, menyampaikan bahwa generasi muda penerus kelangsungan bangsa dan negara wajib mengenal sejarah serta budaya bangsa sendiri “Untuk ilmu pengetahuan modern wajib membuka diri dengan bangsa-bangaa lain dengan mempelajari perkembangan kecanggihan teknologinya, tetapi kebudayaan asli bangsa warisan leluhur kita wajib dijaga dan dilestarikan sebagai ikon jati diri bangsa,” kata Tri Retno Suqryanti.

 

Melalui sinergi antara Akademisi, Mahasiswa, dan pemuda penerus nilai-nilai perjuangan, SENJATA 2026 diharapkan dapat terus menjadi ruang edukatif dan reflektif dalam memperkuat jati diri serta eksistensi sejarah Indonesia di tengah arus transformasi zaman.

Tentang SENJATA 2026: SENJATA (Sejarah Eksistensi Jati Diri dan Transformasi) merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Airlangga sebagai wadah diskusi, edukasi, dan apresiasi seni-sejarah bagi Mahasiswa dan masyarakat umum. (aa)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kamu mungkin juga suka
930 x 180 AD PLACEMENT