

SURABAYA | brigadepasopati.com – Upaya Universitas Airlangga (UNAIR) mengawal publikasi ilmiah ke panggung internasional terus menunjukkan hasil. Hingga 2026, sebanyak 21 Jurnal UNAIR telah terindeks Scopus. Capaian ini mencerminkan komitmen Lembaga Pengembangan Jurnal, Publikasi, dan Hak Kekayaan Intelektual (LPJPHKI) dalam membangun ekosistem publikasi yang berkualitas dan berintegritas. “Ekosistem publikasi yang ada di UNAIR ini dibangun dengan kuat. Jadi, tidak semata-mata dari sisi jumlah, tetapi juga dari sisi kualitas dan integritas,” ujar Ketua LPJPHKI UNAIR, Prof Ferry Efendi, S.Kep.Ns., M.Sc., Ph.D., pada Senin (10/8/2026).
Prof Ferry Efendi menegaskan, riset tidak seharusnya berhenti sebagai draft di laptop. Hasil penelitian harus menjangkau khalayak dan memberikan dampak nyata. Ketua LPJPHKI UNAIR menyebut ada dua dampak utama dari publikasi. Pertama, policy impact, ketika hasil riset memengaruhi penyusunan atau pelaksanaan kebijakan. Kedua, knowledge impact, ketika penelitian memperkaya teori dan khazanah keilmuan. “Publikasi ini menjadi pintu utama. Menjadi corong untuk mengubah kebijakan. Jadi bagaimana publikasi kita, ataupun sesuatu yang kita tulis, itu dibaca, didengar, dan memengaruhi kebijakan,” jelas Prof Ferry Efendi.
Menurut Prof Ferry Efendi, kanal penyebaran pengetahuan juga harus mengikuti perkembangan zaman. Jika dulu masyarakat mengandalkan televisi, radio, dan surat kabar, kini media sosial dan platform digital membuka ruang baru bagi peneliti menyebarluaskan riset. “Karena itu, publikasi perlu hadir melalui berbagai kanal agar pengetahuan menjangkau masyarakat secara lebih luas,” ungkap Prof Ferry Efendi.
Keberhasilan 21 Jurnal UNAIR masuk Scopus tidak lepas dari keragaman bidang keilmuan yang dikelola. Jurnal-jurnal tersebut mencakup sosial humaniora, kesehatan, sains dan teknologi, hingga ekonomi dan bisnis. Ketua LPJPHKI UNAIR menekankan pentingnya riset yang original dan unik, bukan sekadar mengulang penelitian sebelumnya. Pengelolaan jurnal UNAIR juga mengacu pada prinsip Committee on Publication Ethics (COPE) untuk menjaga etika penelitian dan publikasi.
Prof Ferry Efendi mengingatkan bahwa indeksasi Scopus bukan garis akhir. “Scopus ini langkah awal, tapi bukan garis akhir. Tantangan berikutnya memastikan kualitasnya tetap terjaga, visibilitasnya meningkat, tata kelolanya berkelanjutan, dan integritasnya tetap kita pastikan,” pungkas Prof Ferry Efendi. (aa)