

SURABAYA | brigadepasopati.com – Tim Anargya EV Team dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Berlaga dengan nomor E21 pada ajang 24th Formula Society of Automotive Engineers (FSAE) Japan 2026, mobil formula listrik ITS ini berhasil memborong tiga penghargaan sekaligus.
Berdasarkan pengumuman resmi _24th Formula SAE Japan 2026 Award List_, Anargya ITS meraih 1st Place Best Three-View Drawing Award, 2nd Place MathWorks Modeling Award, serta 2nd Place PR Award.
Perwakilan Tim Anargya ITS, Muhammad Bilal, menyampaikan rasa syukur atas pencapaian ini merupakan hasil dari riset dan pengembangan kendaraan listrik berkelanjutan oleh Mahasiswa ITS, dengan pengetahuan yang terus terakumulasi lintas generasi tim, mencakup desain mekanik, sistem kelistrikan, baterai, kontrol kendaraan, hingga integrasi sistem. “Prestasi ini merupakan hasil dari riset dan pengembangan kendaraan listrik berkelanjutan dengan pengetahuan yang terus terakumulasi lintas generasi tim, mencakup desain mekanik, sistem kelistrikan, baterai, kontrol kendaraan, hingga integrasi sistem. Kami berangkat ke Jepang bukan hanya untuk bertanding, tapi untuk membuktikan bahwa Mahasiswa Indonesia mampu bersaing secara teknis dan profesional di level dunia. Semoga ini menjadi motivasi bagi Mahasiswa Indonesia lainnya untuk terus mengembangkan inovasi kendaraan listrik Indonesia,” ujar Muhammad Nabil, pada Rabu (12/8/2026).

Anargya ITS menempati peringkat pertama kategori _Best Three-View Drawing Award_, mengungguli Nagoya Institute of Technology dan Sophia University. Kategori ini menilai ketepatan dan presisi gambar teknik kendaraan, meliputi tampak depan, samping, dan atas, sebagai representasi akurat dari proses perancangan dan integrasi antar komponen. “Gelar Juara pertama ini menegaskan kematangan tim dalam menerjemahkan kendaraan yang kompleks menjadi dokumentasi engineering yang presisi dan mudah dievaluasi Juri,” ungkap Muhammad Nabil.
Tim asal Surabaya ini juga meraih peringkat kedua _MathWorks Modeling Award_, di bawah Nagoya Institute of Technology dan di atas Tohoku University. Penghargaan ini diberikan atas pemanfaatan MATLAB dan Simulink untuk memodelkan accumulator 77S7P, motor controller, dan traction motor, lalu mengorelasikannya dengan data pengujian aktual seperti dynotest dan CAN BMS. “Dari hasil tersebut, tim mengidentifikasi enam kelompok seri baterai yang membatasi performa accumulator, menggantinya, dan memvalidasi hasilnya lewat simulasi. Ini menjadi bukti nyata pendekatan _model–test–validate–improve_ dalam pengembangan kendaraan,” kata Muhammad Nabil.
Anargya ITS juga meraih _2nd Place PR Award_ dan menjadi satu-satunya tim Electric Vehicle (EV) yang menerima penghargaan tersebut di FSAE Japan 2026. Capaian ini tidak lepas dari kolaborasi tim Public Relations dan Visual Media Anargya dalam mengemas serta mengkomunikasikan proses engineering dan inovasi tim kepada publik.
Ketiga penghargaan tersebut mencerminkan kemampuan Anargya dalam desain, pemodelan berbasis data, serta komunikasi publik, sekaligus menjadi capaian membanggakan bagi Indonesia di panggung Formula Student dunia.

Formula SAE menuntut setiap tim Mahasiswa menjalankan proses pengembangan kendaraan secara menyeluruh layaknya tim engineering profesional. Proses tersebut mencakup perancangan, perhitungan, simulasi, manufaktur, pengujian, validasi, hingga dokumentasi dan pertanggungjawaban setiap keputusan engineering di hadapan para Juri. “Raihan satu Juara Pertama dan dua Juara Kedua menjadi pencapaian penting bagi Anargya ITS, terlebih karena daftar penerima penghargaan kelas EV tahun ini juga diisi Universitas dengan tradisi engineering kuat seperti Nagoya University, The University of Tokyo, Tohoku University, dan National Taiwan University,” pungkas Muhammad Nabil.

Dengan pengalaman dari Formula SAE Japan 2026, Anargya ITS akan terus melanjutkan pengembangan teknologi dan performa kendaraan untuk menghadapi kompetisi berikutnya. Dari bengkel Mahasiswa di Kampus ITS Surabaya hingga panggung internasional, perjalanan Anargya ITS menunjukkan bahwa karya engineering Mahasiswa Indonesia mampu bersaing di tingkat global. (aa)