

SURABAYA | brigadepasopati.com – Akhirnya, momen yang ditunggu oleh ribuan siswa SMA berprestasi dari seluruh Indonesia telah tiba. Universitas Airlangga (UNAIR) resmi mengumumkan kandidat penerima Golden Ticket 2026, pada Jum’at (27/3/2026). Sederet nama disebut siap menjadi calon Ksatria Airlangga, salah satunya adalah Ahmad Deedat Assegaf dari SMAN 5 Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Deedat mengungkapkan bahwa ia merasa bangga karena menjadi siswa pertama kandidat penerima penghargaan Golden Ticket dari sekolahnya. “Jujur, saya merasa sangat senang dan bangga ketika diumumkan menjadi kandidat penerima penghargaan ini, karena saya menjadi siswa pertama yang lolos di sekolah tersebut. Terlebih lagi lolos pada jurusan dan kampus yang diinginkan sejak lama, yakni Farmasi UNAIR,” ungkap Deedat.
Sejak kelas 11, Deedat telah mencari informasi mengenai seleksi Golden Ticket karena ia ingin mempersiapkan diri sejak awal. “Mulai kelas 11, saya mendapat informasi dari video TikTok, Google, dan diskusi bersama kakak kelas tentang jalur seleksi ini. Kemudian, saya melakukan konsultasi dengan guru. Pada kelas 12, saya memantapkan diri mendaftar dan kini ditetapkan menjadi penerima Golden Ticket,” terang siswa SMAN 5 Banjarmasin.
Farmasi menjadi bidang yang ingin Deedat pelajari sejak lama. Ia mengungkapkan bahwa alasan memilih UNAIR karena terkenal sebagai kampus dengan reputasi akademik yang unggul dalam bidang kesehatan dan sains. Selain itu, lingkungan yang kompeten dan fasilitas yang lengkap turut menjadi alasannya.
Berbekal prestasi yang pernah diraih, ia berhasil lolos menjadi salah satu kandidat calon Mahasiswa Farmasi, Fakultas Farmasi (FF) UNAIR. “Saya mencantumkan sertifikat Duta SMA Kalimantan Selatan 2025 dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Kemudian saya melampirkan sertifikat juara Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Kimia tingkat Kota, serta sertifikat organisasi yakni Ketua Paduan Suara,” jelas Deedat.
Selama sekolah, Deedat mengaku sempat mengalami kesulitan dalam membagi waktu antara akademik dan organisasi. “Saya pernah mengalami kesulitan dalam membagi waktu, namun saya mengatasinya dengan membuat jadwal antara mengikuti kompetisi, organisasi, serta waktu belajar,” ujar Deedat.
Meskipun telah memiliki segudang prestasi, Deedat menyampaikan komitmen akan menjadi Mahasiswa yang berdampak. “Untuk kedepannya, setelah resmi ditetapkan menjadi Mahasiswa Baru, saya berkomitmen mengembangkan potensi yang dimiliki agar menjadi Mahasiswa berdampak untuk meningkatkan reputasi akademik UNAIR maupun bagi masyarakat,” pungkas Deedat. (*)