

SURABAYA | brigadepasopati.com – Inovasi berbasis teknologi 3D bioprinting mengantarkan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (UNAIR) meraih Juara Satu kategori International Essay Competition pada ajang 17th Dentistry Scientific Competition (DSE) 2026. Kompetisi tersebut berlangsung pada Sabtu (1/8/2026) di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya.
Tim terdiri atas Hanna Emanuela Simanjuntak, Dyandra Aulia Daanisy, dan Zaki Septiyono Saputra. Mereka mengusung esai berjudul PIONEER: A Bioactive PLA/nHA/Naringin Scaffold to Promote Osteogenic Differentiation of Human Dental Pulp Stem Cells yang menawarkan konsep scaffold bioaktif berbasis 3D bioprinting untuk membantu regenerasi jaringan pulpa gigi.
Hanna Emanuela menjelaskan bahwa inovasi tersebut bermula dari adanya tantangan dalam penanganan nekrosis pulpa pada gigi permanen muda yang akarnya belum terbentuk sempurna. Menurutnya, perawatan endodontik konvensional saat ini umumnya hanya berfokus menghilangkan infeksi sehingga belum mampu mengembalikan fungsi jaringan pulpa secara optimal. “Kami mengembangkan konsep scaffold bioaktif yang mengombinasikan polylactic acid (PLA), nano-hydroxyapatite (nHA), dan naringin (NAR). Scaffold ini dicetak menggunakan teknologi 3D bioprinting untuk membantu regenerasi jaringan pulpa sekaligus disesuaikan dengan anatomi saluran akar gigi masing-masing pasien melalui pencitraan CBCT scan,” jelas Hanna Emanuela.
Sementara itu, Zaki Septiyono juga menambahkan bahwa PLA berperan sebagai struktur bagi pertumbuhan sel, nHA memiliki karakteristik mampu mendukung pembentukan jaringan baru, sedangkan naringin dipilih karena memiliki sifat anti inflamasi, antioksidan, antibakteri, serta mampu meningkatkan regenerasi tulang secara alami. “Berbeda dengan scaffold konvensional yang umumnya hanya berfokus pada regenerasi jaringan, kombinasi bahan bioaktif ini juga berpotensi membantu menghambat infeksi sekaligus merangsang pembentukan jaringan pembuluh darah baru selama proses penyembuhan,” ujar Zaki Septiyono.
Selanjutnya, Dyandra Aulia mengungkapkan bahwa inovasi tersebut masih berupa konsep yang disusun berdasarkan kajian ilmiah sehingga memerlukan pengujian lebih lanjut. Meski demikian, ia berharap gagasan ini dapat menjadi pijakan dalam pengembangan terapi regeneratif endodontik yang lebih presisi.
Di akhir, mereka mengajak Mahasiswa untuk berani mencoba mengikuti kompetisi dan tidak takut keluar dari zona nyaman. “Perbanyak membaca literatur dan pahami isu yang ingin diangkat. Jangan takut menawarkan solusi baru, karena dari situlah ide-ide yang bermanfaat bagi masyarakat dapat lahir,” pungkas Dyandra Aulia. (*)