

SURABAYA | brigadepasopati.com – Museum Sepuluh Nopember menggelar diskusi publik bertajuk “Kilas Balik Surabaya 1945 dari Mata Anak-Anak Pejuang”, yang diselenggarakan pada Kamis (20/8/2026). Kegiatan ini menjadi ruang untuk menggali kembali sejarah Pertempuran Surabaya 1945 melalui kesaksian keluarga para pejuang serta penelusuran sejarah dari berbagai sumber.
Diskusi yang dimoderatori M.T. Agus, Kurator Museum Surabaya ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Sri Lestari, putri almarhum Moekari mantan personel Tokubetsu Keisatsutai (Polisi Istimewa); Charles Edward Tumbel, putra almarhum Benny Tumbel anggota BKR Pelajar; serta Ady E. Setyawan, S.T., pendiri Roode Brug Soerabaia dan penulis buku tentang Pertempuran Surabaya.
Sri Lestari membagikan kisah personal mengenai perjuangan sang ayah dalam mempertahankan kemerdekaan. Ia pernah mengikuti sang ayah menapaki kembali jalur gerilya yang dilalui dari Surabaya menuju arah selatan hingga ke kaki Gunung Wilis.

Dalam penuturannya, Sri Lestari mengisahkan bagaimana ayahnya tertembak saat menghadang pasukan Belanda. Lima butir peluru bersarang di kakinya, hingga akhirnya menyebabkan kaki Moekari harus diamputasi. “Kesaksian tersebut memberikan gambaran mengenai beratnya perjuangan yang harus dijalani para pejuang setelah Pertempuran Surabaya. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya terjadi dalam pertempuran besar di medan laga, tetapi juga berlanjut melalui perjalanan gerilya dan berbagai pengorbanan personal,” ujar Sri Lestari.
Sedangkan Charles Edward Tumbel menceritakan pengetahuan yang diwarisinya mengenai peran sang ayah sebagai anggota BKR Pelajar. Ia juga menjelaskan perbedaan fungsi antara PETA, Heiho, dan Tokubetsu Keisatsutai. “PETA dan Heiho merupakan satuan yang dipersiapkan Jepang untuk pertahanan, sementara Tokubetsu Keisatsutai memiliki fungsi utama menjaga keamanan. Karena itulah, saat pelucutan senjata terhadap pasukan Jepang, Polisi Istimewa tidak turut dilucuti,” terang Charles E. Tumbel.
Dari sisi akademis, Ady E. Setyawan menekankan pentingnya oral history atau sejarah lisan dalam mengisi ruang-ruang kosong yang tidak ditemukan dalam dokumen tertulis. “Kesaksian pelaku dan keluarga pelaku sejarah menghadirkan unsur emosi dan psikologis yang membuat sejarah lebih hidup,” ucap pendiri Roode Brug Soerabaia.
Namun Ady E. Setyawan juga mengingatkan adanya tantangan subjektivitas dalam ingatan. Karena itu, peneliti perlu melakukan triangulasi data, yaitu membandingkan kesaksian dengan berbagai sumber lain agar cerita memiliki dasar yang lebih kuat dan objektif.
Sebagai pendiri Roode Brug Soerabaia, Ady E. Setyawan membagikan pengalamannya menelusuri jejak Pertempuran Surabaya hingga ke Belanda, khususnya terkait periode Agresi Militer Belanda. “Memahami sejarah secara utuh membutuhkan keberanian mencari sumber dari berbagai tempat dan perspektif,” tegas Ady E. Setyawan.
Melalui kegiatan ini, Museum Sepuluh Nopember tidak hanya mengajak masyarakat untuk mengingat peristiwa 10 November 1945, tetapi juga memahami manusia dan pengalaman di balik peristiwa tersebut. “Sebab, di balik setiap catatan sejarah, terdapat cerita tentang manusia, keluarga, pengorbanan, dan ingatan yang perlu terus dirawat agar tidak hilang ditelan zaman,” demikian pesan M.T. Agus, yang disampaikan dalam diskusi.
Dengan menghadirkan narasi dari anak-anak pejuang, museum berharap generasi muda dapat lebih dekat dan memahami nilai-nilai kepahlawanan yang diwariskan para pendahulu, serta menjadikan sejarah sebagai ruang dialog yang hidup. (aa)