

SURABAYA | brigadepasopati.com – Setelah terjadinya peristiwa “Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato”, Kota Surabaya menjadi tegang dan panas. Arek-arek Suroboyo yang sebagian besar mulanya berprasangka baik dan tidak mencurigai Pasukan Sekutu, akhirnya menjadi berprasangka buruk, mencurigai sekaligus jengkel. Sehingga setiap gerak-geriknya diawasi dan diperbincangkan.
Kisah ini disampaikan pada 31 Oktober 2024 untuk mengenang heroiknya Arek-Arek Suroboyo oleh Charles E. Tumbel, putra Alm. Pratu TRIP Benny Tumbel salah satu Pejuang Suroboyo yang sempat mengisahkan berbagai dinamika di era kemerdekaan sebelum beliau wafat pada tahun 2007.
“Demikian pula pada siang itu, hari Minggu, tanggal 28 Oktober 1945, Alm. Ayah saya berangkat ke sekolahnya yang menjadi Markas dari BKR-P Staf III / Praban,” ungkap Charles. Sesudah diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus 1945) dan disahkannya ideologi Pancasila sebagai Dasar Negara serta UUD 1945 sebagai Konstitusi Negara (18 Agustus 1945), BKR (Badan Keamanan Rakyat) didirikan (23 Agustus 1945). Para Pelajar juga tidak mau ketinggalan dan mendirikan BKR Pelajar atau yang disingkat BKR-P.
Hampir seluruh siswa di Kota Surabaya, terutama yang dulunya bekas Gakko Chotai alias anak-anak sekolah (10-17 tahun) yang pernah dilatih dasar kemiliteran oleh Bala Tentara Jepang, yang semenjak bulan Juli telah “Adem Panas” (tokohnya bernama Mas Biek “Turet”, Alm. Mayjen Pur. Soebiantoro, konon yang menembak Brigjen AWS Mallaby) untuk melakukan perlawanan dan memiliki gerakan bawah tanahnya sendiri dengan mengeroyok orang-orang Jepang yang sedang mabuk serta menandai rumah-rumah para kolaborator, langsung membentuk sebuah Badan Perjuangan yang kemudian menjadi BKR-P tersebut.

BKR-P memiliki 4 markas komando, yakni :
1. BKR-P Staf I / Darmo.
2. BKR-P Staf II / Sawahan.
3. BKR-P Staf III / Praban.
4. BKR-P Staf IV / Benteng Miring.
Alm. Pratu TRIP Benny Tumbel yang baru lulus dari SD di Jl. Gentengkali (Taman Siswa) serta masuk ke SMP di Jl. Ketabang, tergabung di BKR-P Staf III / Praban (sekolah SMP Praban dan SMP Ketabang digabungkan pada akhir jaman Jepang) yang markas komandonya di Jl. Praban (sekarang SMPN 3 Surabaya). Setibanya di halaman sekolah (markas) yang luas, memperoleh kabar dari kawan-kawannya bahwasanya sejak Subuh tadi, truk-truk milik Pasukan Sekutu yang dikemudikan oleh tentara Gurkha yang bertuliskan “RAPWI”, hilir-mudik dari arah Perak ke arah Darmo serta sebaliknya.
Lantaran perasaan khawatir, ingin tahu plus tidak percaya terhadap Pasukan Sekutu lagi, walhasil Alm. Pratu TRIP Benny bersama 3 orang sahabatnya, Mas Yono “Kencur” (Alm. Brigjen Pol. Pur. Soejono Soentahir), Mas Hardji (Alm. Pratu TRIP Soehardji) dan Mas Tomo “Cilik” (Alm. Pratu TRIP Soetomo Fadjar) menelusuri jalan-jalan yang diperkirakan dilalui oleh truk-truk itu.
Di ujung Jl. Toendjoengan salah satu dari truk-truk tersebut ditemukan. Dan sembari berlarian, terus-menerus diikuti. Tetapi karena truk itu berjalan kencang, mereka-pun tertinggal. Sambil sesekali bertanya ke warga sekitar, perjalanan untuk menguntit tetap dilanjutkan.
Hingga sampailah di pertigaan jalan Palmenlaan (Jl. Panglima Sudirman) dan Jl. Sonokembang (entah dulu namanya jalan apa) yang disana 2 buah truk sudah dihentikan oleh penduduk setempat bersama Pak Djarot (Alm. Letkol Pur. Djarot Soebiantoro, tatkala kejadian tersebut merupakan Ketua dari satuan Jibakutai). Tampak Cak Wadji (Alm. Serma Pur. Heru Suwadji) di antara mereka, namun Alm. Pratu TRIP Benny tidak sempat menyapa.
“Cak Wadji adalah anggota BKR dari RW I kampung Karang Bulak (sekarang hilang, sebab menjadi Hotel Bumi), yang senantiasa aktif memantau sepak terjang Pasukan Sekutu,” kata Ayah saya. Dan Alm. Pratu TRIP Benny Tumbel seringkali berjumpa dengannya, ketika “Hal-hal Penting” terjadi di Surabaya. Beliau berdua bersahabat erat, hingga akhir hayat.
Dan Charles, melanjutkan ceritanya, “Selang beberapa lama, datanglah kembali 1 buah truk dan Ayah saya beserta ketiga sahabatnya segera menghentikannya. Truk-truk yang bertuliskan RAPWI itu, mengangkut beberapa gelintir wanita dan anak-anak Belanda (tidak penuh), serta kotak berlambang Palang Merah”.
Setelah berbicara sebentar dengan tentara Gurkha yang mengemudikan truk tersebut, mereka lekas ke belakang untuk membuka pintunya. “Para wanita dan anak-anak Belanda memberikan sambutan hangat, serta berbasa-basi sejenak. Alm. Ayah saya dan sahabat-sahabatnya mempersilahkan mereka turun dari atas truk itu, lalu memeriksa muatan yang ada di dalamnya,” lanjut Charles, Ketua Putra Putri Pejuang Suroboyo.
Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah massa yang berada di truk yang lebih depan, “Senjata!, Senjata!, Bakar!, Bakar!”. Dan para wanita serta anak-anak Belanda menjadi ketakutan, lalu meminta ampun plus maaf, sekaligus berkata bahwa mereka tidak tahu apa-apa. Alm. Pratu TRIP Benny Tumbel spontan menyuruh salah seorang sahabatnya untuk menyerahkan wanita dan anak-anak tersebut kepada markas Pasukan Sekutu yang berada di pojokan Jl. Sonokembang yang berbelok ke Jl. Kayoon (kayaknya saat ini Kantor Indosat), supaya aman. Serta Beliau bersama para sahabat yang lainnya, membuka kotak-kotak di atas truk itu.
Kotak-kotak belum terbuka, sekonyong-konyong “Bruaakkk!” dan “Doorrr, doorrr, doorrr”!! Salah satu truk yang berada di Jl. Sonokembang menabrak penduduk dan menembakinya!! Sontak terjadilah tembak-menembak yang tidak seimbang!
Arek-arek Suroboyo dari daerah Keputran, Pandegiling, Kaliasin, Kayoon, Karang Bulak, Embong Ungu dan lain-lain bersatu serta serempak melakukan perlawanan!. Segala alat dipakai untuk menyerang!! Sampai-sampai Pasukan Sekutu mundur kelabakan dan menelantarkan para wanita serta anak-anak Belanda yang sebelumnya dijadikan “Tameng” oleh mereka!!!
Rakyat yang emosi seketika membakar truk-truk tersebut dan menghakimi para wanita serta anak-anak yang tertinggal disitu! Sungguh-sungguh naas dan mengerikan!! Api dahsyat berkobar dan meledak-ledak! 7 buah truk RAPWI berhasil dibakar dan muatannya dibawa pulang oleh masyarakat setempat!!
“Alm. Ayah saya dan 2 orang sahabatnya (yang 1 orang lagi berjalan di seberang) perlahan-lahan mundur ke belakang. Berhenti sejenak di markasnya Pak Djarot (Jl. Embong Ungu), kemudian balik ke markasnya di Jl. Praban. Banyak sekali korban jiwa yang tidak bersalah dari peristiwa ini. Dan mulai hari, tanggal serta jam tersebut di atas, kedua belah pihak semakin sengit permusuhannya”, ungkap Charles mengakhiri ceritanya.