

SURABAYA | brigadepasopati.com – Pergantian tahun dalam kalender Hijriah selalu menjadi momentum refleksi bagi umat Islam. Tahun Baru 1448 H hadir membawa pesan hijrah, perubahan, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Namun, tahun ini masyarakat menyambutnya dalam situasi yang tidak mudah. Harga kebutuhan pokok terus merangkak naik, biaya hidup semakin tinggi, sementara daya beli sebagian masyarakat belum sepenuhnya pulih. Bagi banyak keluarga, setiap kenaikan harga berarti tambahan beban yang harus ditanggung.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan ekonomi yang tercermin dalam angka statistik. Di pasar tradisional, ibu rumah tangga harus lebih cermat memilih kebutuhan yang akan dibeli. Di kalangan pekerja, penghasilan yang relatif tetap harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan yang semakin mahal. Sementara bagi pelaku usaha kecil, kenaikan biaya produksi sering kali menggerus keuntungan yang diperoleh. Kondisi tersebut menciptakan perasaan tidak pasti yang dapat memengaruhi optimisme masyarakat.
Ketidakpastian ekonomi sesungguhnya bukan hal baru dalam sejarah kehidupan manusia. Setiap zaman memiliki tantangannya masing-masing. Namun yang menjadi persoalan adalah ketika ketidakpastian tersebut berubah menjadi pesimisme yang melemahkan semangat untuk berusaha. Dalam situasi seperti inilah nilai-nilai yang terkandung dalam peringatan Tahun Baru Hijriah menjadi relevan untuk direnungkan kembali.
Hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW bukanlah perjalanan yang berlangsung dalam keadaan nyaman. Sebaliknya, hijrah terjadi dalam situasi penuh tekanan, keterbatasan, dan risiko. Akan tetapi, dari peristiwa itulah lahir babak baru yang membawa perubahan besar bagi umat Islam. Hijrah mengajarkan bahwa kesulitan bukan alasan untuk menyerah, melainkan kesempatan untuk membangun strategi, memperkuat keyakinan, dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Semangat itulah yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Ketika harga-harga naik dan kondisi ekonomi belum sepenuhnya stabil, yang diperlukan bukan hanya kemampuan bertahan, tetapi juga kemampuan beradaptasi. Masyarakat perlu semakin bijak dalam mengelola keuangan, mengutamakan kebutuhan dibandingkan keinginan, serta terus meningkatkan keterampilan agar mampu menghadapi perubahan zaman. Sikap konsumtif yang selama ini dianggap lumrah perlu mulai dikoreksi menjadi pola hidup yang lebih sederhana dan produktif.
Di sisi lain, ketahanan ekonomi masyarakat tidak dapat dibangun hanya melalui upaya individu. Solidaritas sosial harus menjadi kekuatan bersama. Dalam tradisi Islam, kepedulian terhadap sesama merupakan bagian penting dari kehidupan bermasyarakat. Ketika sebagian warga mengalami kesulitan, mereka yang memiliki kelebihan rezeki didorong untuk berbagi melalui zakat, infak, sedekah, maupun berbagai kegiatan sosial lainnya. Nilai-nilai tersebut terbukti mampu memperkuat daya tahan masyarakat dalam menghadapi berbagai krisis.
Pemerintah juga memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi kelompok masyarakat yang rentan. Berbagai kebijakan yang berpihak pada rakyat, pengendalian harga kebutuhan pokok, penciptaan lapangan kerja, serta dukungan terhadap usaha mikro dan kecil harus terus diperkuat. Kepercayaan masyarakat terhadap masa depan akan tumbuh apabila mereka melihat adanya langkah nyata yang mampu menjawab persoalan sehari-hari.
Meski demikian, harapan tidak boleh hanya digantungkan pada kebijakan Pemerintah atau kondisi ekonomi global. Harapan juga lahir dari sikap mental masyarakat itu sendiri. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga optimisme bahkan ketika menghadapi kesulitan. Optimisme bukan berarti mengabaikan kenyataan, melainkan keberanian untuk percaya bahwa setiap masalah dapat dihadapi dengan usaha, kebersamaan, dan doa.
Tahun Baru 1448 H seharusnya menjadi pengingat bahwa perubahan selalu dimulai dari keyakinan dan tindakan. Harga mungkin terus naik, pengeluaran rumah tangga mungkin semakin berat, dan tantangan ekonomi mungkin belum berakhir. Namun, harapan tidak boleh ikut menipis sebagaimana isi dompet yang semakin berkurang. Justru dalam masa sulit, harapan harus dijaga agar tetap menyala.
Pada akhirnya, makna hijrah yang paling penting adalah keberanian untuk bergerak menuju keadaan yang lebih baik. Selama masyarakat tetap bekerja keras, saling membantu, dan tidak kehilangan keyakinan akan masa depan, maka setiap kesulitan akan melahirkan peluang baru. Karena itu, di tengah harga yang naik dan ketidakpastian ekonomi yang masih membayangi, Tahun Baru 1448 H patut disambut dengan semangat baru: semangat untuk terus berikhtiar, memperkuat solidaritas, dan menjaga harapan agar tetap menyala.
Penulis : Fadjar Budianto – Dosen Universitas 45 Surabaya