

KOTA KEDIRI | brigadepasopati.com – Tahu, hal yang tampak sederhana di meja makan, tetapi bagi masyarakat Kediri, makanan ini menyimpan makna yang jauh lebih besar dari ukurannya. Makanan berbahan dasar kedelai ini sebenarnya bukan makanan istimewa dan dapat ditemui di berbagai wilayah di Indonesia, tapi di antara beragam jenis tahu tersebut, tahu takwa dari Kediri menempati posisi khas yang turut membentuk citra Kota ini. Industri-industri tahu hadir di Kota Kediri, berdampingan dengan industri dominan, seperti gula dan kretek, sebagai penggerak utama ekonomi Kota. Meskipun skalanya tidak sebesar industri dominan, industri tahu turut menghidupi warga Kota, menggerakkan ekonomi lokal, sekaligus membentuk identitas yang melekat sehingga tidak lengkap rasanya jika berkunjung ke Kota Kediri tanpa mencicipi makanan ini.
Secara historis, tahu yang menjadi ikon Kediri bukan makanan asli, melainkan dibawa oleh imigran dari Tiongkok. Para imigran tersebut memilih Kota ini sebagai destinasi karena menemukan kemiripan karakter dan kualitas air dengan kampung halaman mereka. Di awal abad ke-20, mereka mulai menetap dan merintis industri pengolahan tahu berwarna kuning yang diilhami dari warna bangunan di banyak sudut Kota Kediri pada masa itu. Selain itu, penamaan tahu takwa juga berakar dari kata “Kwa” yang merupakan sebutan bagi suku Hokkian dan mengalami asimilasi karena ejaan masyarakat Jawa. Dengan demikian, tahu takwa tidak hanya dimaknai sebagai makanan semata, tetapi juga menyimbolkan adanya relasi antara Tiongkok sebagai kampung halaman dan Kediri sebagai tempat perantauan bagi para imigran tersebut.

Di antara imigran Tiongkok, terdapat beberapa sosok yang menjadi pionir berdirinya industri pengolahan tahu di Kediri, salah satunya Lauw Soen Hoek yang lebih dikenal secara luas sebagai Bah Kacung. Bah Kacung merintis industri tahu miliknya sejak tahun 1912 dengan memberikan ciri khas warna kuning dari ekstrak kunyit pada tahu produksinya. Mulanya industri ini hanya berskala rumahan, kemudian berkembang dan menginspirasi tumbuhnya industri-industri tahu lainnya di daerah Pecinan. Hingga saat ini, industri yang didirikan oleh Bah Kacung masih beroperasi dan diwariskan hingga generasi ketiga. Selain Bah Kacung, ada beberapa sosok lain yang turut berkontribusi dalam menjamurnya industri tahu di Kediri, seperti Liem Ga Mou dan Kaou Loung.
Seiring dengan berkembangnya Kota Kediri, industri tahu turut terseret dalam dinamika yang semakin kompleks. Meskipun demikian, eksistensi tahu takwa masih menjadi sesuatu yang dipertimbangkan dan justru semakin populer, baik di kalangan masyarakat Kediri maupun orang luar. Pada pertengahan dekade 80an, tahu takwa menandai awal kepopulerannya dengan semakin banyaknya industri baru yang didirikan. Pertumbuhan pesat tersebut berlanjut hingga awal tahun 1990, di mana produk industri ini semakin terkenal dan berhasil menarik minat wisatawan. Kepopuleran tahu takwa tidak lepas dari usaha yang dilakukan oleh masing-masing industri dalam menjaga keotentikan cita rasa mereka dengan tetap mempertahankan metode pengolahan tradisional. Kendati demikian, industri tahu kemudian beradaptasi dengan perkembangan zaman, baik dari alat produksi maupun metode pemasaran, sehingga keberadaan mereka tetap relevan di tengah masyarakat. Mereka tetap mempertahankan keterampilan pengolahan tahu yang diwariskan dengan menyesuaikan diri tanpa sepenuhnya menghilangkan praktik produksi sebelumnya.
Kondisi demikian menunjukkan apa yang dijelaskan oleh J.H. Boeke sebagai dualisme ekonomi. Industri tahu Kediri beroperasi di antara sistem ekonomi tradisional dan modern. Di satu sisi, industri tahu berupaya mempertahankan metode produksi lama dan tidak memiliki kecenderungan untuk memperoleh keuntungan secara maksimal dengan memperluas bisnisnya. Selama ini, beberapa industri tahu seperti milik Bah Kacung hanya memproduksi tahu dalam jumlah terbatas per harinya agar dapat dikonsumsi dalam keadaan segar dan menghindari penggunaan pengawet. Padahal, jika memanfaatkan pengawet, tahu tersebut dapat bertahan lebih lama dan memungkinkan untuk diproduksi dalam skala besar. Sementara itu, di sisi lain, seiring dengan tuntutan zaman, industri tahu harus berhadapan dengan efisiensi, tuntutan pasar, serta persaingan yang mengharuskan mereka untuk memanfaatkan teknologi atau melakukan inovasi agar dapat bertahan di tengah modernitas. Salah satu upaya inovasi yang mereka lakukan yaitu memproduksi varian lain dari tahu takwa, seperti stik tahu, tahu coklat, tahu walik, dan sejumlah varian lain.

Industri-industri tahu di Kediri terkonsentrasi di beberapa lokasi, seperti di wilayah Jagalan, Pakelan, Pocanan, Bawang, dan Tinalan. Toko-toko yang menjual tahu takwa juga dapat ditemui dengan mudah di sepanjang Jalan Yos Sudarso, Jalan Trunojoyo, dan Jalan Pattimura. Di samping pusat industri tersebut, terdapat industri-industri lain yang tersebar di berbagai wilayah di Kediri mulai dari skala rumah tangga. Hidupnya industri tahu di ruang-ruang domestik tersebut memperlihatkan bahwa industri di perkotaan tidak selalu hadir dalam wujud pabrik atau industri besar, melainkan juga tercermin dalam jaringan usaha kecil yang turut mengisi sudut-sudut kota tersebut. Dalam konteks Kota Kediri, industri tahu juga memiliki kontribusi yang tidak bisa diremehkan sebagai salah satu sumber pemasukan bagi masyarakat sekaligus membentuk citra Kediri.
Namun, di balik semua kontribusi besarnya, industri tahu turut menghadapi berbagai tantangan sebagai bagian dari realitas. Peristiwa seperti krisis ekonomi di akhir Orde Baru, kasus borak yang menghebohkan masyarakat di tahun 2007, terhambatnya pasokan bahan baku dan terjadinya kenaikan harga pada tahun 2009, hingga pandemi Covid-19, turut menyebabkan ketidakstabilan pada industri ini. Selain peristiwa besar, kendala yang sering ditemui pada proses produksi sehari-hari, seperti telatnya pasokan bahan serta kurang efisiennya penggunaan alat-alat tradisional, menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika industri ini. Meskipun demikian, industri tahu tetap resisten serta memperoleh apresiasi dan dukungan dari Pemerintah Kota Kediri. Dukungan tersebut terwujud dalam gelaran Festival Tahu sebagai upaya memperbaharui citra sekaligus mempromosikan ikon kuliner Kota Kediri secara luas.
Pada akhirnya, menyaksikan keberadaan tahu di Kediri seperti melihat Kota itu sendiri, dari sesuatu yang terlihat sederhana, tetapi turut menyusun kehidupan yang lebih kompleks di dalamnya. Dari makanan yang terlihat sederhana dengan harga ekonomis, banyak masyarakat Kota yang memenuhi kebutuhan hidupnya melalui industri ini. Dari sepotong tahu, nama dan reputasi Kediri terus hidup dan dikenal secara luas oleh masyarakat. Oleh karenanya, mempertahankan keberlanjutan industri tahu bukan hanya tentang menjaga pergerakan ekonomi masyarakat lokal semata, melainkan juga mempertahankan kultur serta citra sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam struktur industri perkotaan.
Disusun Oleh : Riska Yuliana Putri – Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga