

SIDOARJO | brigadepasopati.com – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) RISETMu Tahun 2025–2026 melaksanakan kegiatan bertajuk Diversifikasi Produk Berbasis Daun Kelor Rendah Gula pada UMKM Pawon Dhe Irma, binaan LAZISMU Sidoarjo. Kegiatan ini berfokus pada penguatan ketahanan pangan, keamanan pangan, serta pemasaran produk makanan UMKM.
Program Abdimas RISETMu ini diketuai oleh Nihlatul Qudus Sukma Nirwana, S.E., M.M., selaku Dosen Fakultas Bisnis Hukum Ilmu Sosial (FBHIS) dengan beranggotakan Galuh Ratmana Hanum, S.Si., M.Si. Dosen Fakultas Kesehatan (FIKES) dan dibantu oleh Windi Astuti dan Nur Hamidatus Zahra, Mahasiswa Fakultas Bisnis Hukum Ilmu Sosial (FBHIS) Prodi Akuntansi. Kegiatan dilaksanakan sebagai bentuk kontribusi Dosen dan Mahasiswa UMSIDA dalam mendukung pengembangan UMKM berbasis potensi pangan lokal.
Kegiatan yang dilaksanakan, pada Jum’at (23/1/2026) dimulai pada pukul 09.30 WIB ini diikuti oleh Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Wonoayu, Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Sawocangkring, serta para pelaku UMKM Desa Sawocangkring dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas produk pangan lokal sekaligus memperkuat daya saing UMKM di masyarakat.

Pemilik UMKM Pawon Dhe Irma, yaitu Irma Fauziah, menyampaikan apresiasi atas pelatihan dan pendampingan yang diberikan melalui program Abdimas RISETMu. Ia berharap pengembangan produk berbasis daun kelor dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi keberlangsungan usaha yang ditekuninya yang berawal dari pembuatan dawet daun kelor.
“Saya mensuport olahan daun kelor, yang semula dari produksi minuman dawet kelor berkembang menjadi peyek oven kelor dan selai kelor. Semoga ke depannya bisa lebih baik dan semakin berkembang,” ujar Irma Fauziah.
Pada sesi pemaparan materi, Nihlatul Qudus selaku Ketua tim Abdimas, menekankan pentingnya diversifikasi produk bagi UMKM pangan. Menurutnya, UMKM tidak cukup hanya mengandalkan satu jenis produk, tetapi perlu mengembangkan berbagai varian agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
“Daun kelor memiliki potensi besar untuk diolah menjadi berbagai produk, seperti cendol, peyek, hingga selai dan lainnya, untuk itu produk ini perlu dikembangkan sehingga dapat meningkatkan perekonomian UMKM dan memperkenalkan tanaman lokal,” jelas Nihlatul Qudus.
Selain diversifikasi produk, UMKM juga dibekali pemahaman mengenai branding. Ditekankan bahwa UMKM tidak hanya berorientasi pada penjualan, tetapi perlu memiliki identitas usaha dan merek agar produk lebih mudah dikenali masyarakat. Dalam diskusi juga diungkap berbagai tantangan UMKM, seperti belum konsistennya produksi dan aktivitas penjualan, belum diperhitungkannya biaya tenaga kerja, serta stigma kemasan sederhana karena orientasi pasar yang masih terbatas.
Materi selanjutnya membahas langkah-langkah memulai dan mengembangkan usaha, mulai dari penetapan target pasar, pemasaran produk secara berkelanjutan melalui media sosial, hingga penyesuaian kemasan yang sesuai dengan karakter produk. “Pelatihan dan pendampingan kegiatan ini menekankan pentingnya perbaikan packaging dan pemasaran digital sebagai strategi pengembangan UMKM,” ungkap Nihlatul Qudus.
Selain pengembangan usaha, UMKM juga dibekali dengan pengetahuan tentang aspek keamanan dan ketahanan pangan. Galuh Ratmana menjelaskan bahwa keamanan pangan penting untuk diketahui, oleh sebab itu produk pangan UMKM harus memenuhi standar keamanan melalui uji laboratorium, meliputi uji mikrobiologi untuk memastikan produk bebas dari bakteri berbahaya seperti Salmonella, uji kimia (pH, kadar lemak, dan protein), serta uji ketahanan atau masa simpan produk. Selain itu, pelaku UMKM juga perlu memperhatikan uji organoleptik, kadar air sesuai standar, serta teknik sterilisasi kemasan. “UMKM dapat melakukan sterilisasi wadah atau packaging sendiri secara tradisional yaitu dengan melakukan pemanasan pada sekeliling wadah yang akan digunakan. Pemanasan tersebut dilakukan sebelum dan sesudah produk dimasukkan dalam wadah,” terang Galuh Ratmana, sambil mempraktekkan gerakannya.
Sebagai pesan praktis, pelaku UMKM didorong untuk memanfaatkan media sosial, termasuk fitur live TikTok, dengan menampilkan dapur produksi yang bersih. Kebersihan proses produksi dinilai dapat meningkatkan kepercayaan konsumen dan daya tarik produk di pasar digital.
Melalui kegiatan Abdimas RISETMu ini, Tim UMSIDA berharap dapat terus berkontribusi dalam pemberdayaan UMKM berbasis pangan lokal, meningkatkan kualitas dan keamanan produk, serta mendorong kemandirian ekonomi masyarakat Desa secara berkelanjutan. (win)