

GRESIK | brigadepasopati.com – Pada awal tahun 2026 Universitas Airlangga menerjunkan kelompok Belajar Bersama Komunitas (BBK) tahun ke-7 di berbagai Kelurahan/Desa, salah satunya bertempat di Kelurahan Tlogopojok, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik. Sambutan hangat serta dukungan yang diberikan kepada seluruh Mahasiswa BBK oleh Pemerintah Gresik hingga berbagai pihak Kelurahan Tlogopojok dan sekolah yang bertempat di Tlogopojok. Kelompok BBK 7 UNAIR Kelurahan Tlogopojok terdiri dari 7 Mahasiswa dengan latar belakang disiplin ilmu yang berbeda-beda yakni, Dani Ramadhan (D4 Manajemen Perkantoran Digital), Eva Feliana Maelani (D4 Teknologi Laboratorium Medik), Mahrunesha Hafsho (S1 Akuakultur), Suci Fadlila Ramadhani (S1 Kimia), Akhtar Nirwana Putra Agung (S1 Manajemen), Nanda Aurelia Maharani (S1 Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan), dan Athaillah Angger Prahasdi (S1 Akuakultur).
Sebagai salah satu upaya program pengabdian masyarakat dalam bidang kesehatan, kelompok BBK 7 Tlogopojok UNAIR menyelenggarakan kegiatan penyuluhan bertajuk “SIGAP Stunting: Siaga Gizi dan Peduli Stunting” yang diselenggarakan di Kelurahan Tlogopojok, pada Selasa (20/01/2026). “Kegiatan ini dilaksanakan dengan sasaran ibu-ibu PKK, wanita produktif, ibu hamil, ibu yang memiliki balita, serta ibu menyusui yang merupakan wujud kepedulian terhadap permasalahan stunting yang masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia, sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3 tentang kesehatan dan kesejahteraan yang baik,” terang satu perwakilan tim Mahasiswa BBK 7 UNAIR.
Pelaksanaan kegiatan SIGAP ini didukung penuh oleh Kepala Kelurahan Tlogopojok bersama jajaran perangkat Kelurahan. Untuk memperkuat kegiatan ini menghadirkan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Edith Frederika Puruhito, S.KM., M.Sc (Medsci) yang merupakan Dosen D4 Pengobat Tradisional dari Fakultas Vokasi sebagai narasumber yang memberikan edukasi komprehensif mengenai pencegahan dan penanganan stunting. Peserta yang hadir meliputi ibu-ibu PKK, ibu hamil, ibu menyusui, wanita produktif, serta ibu yang memiliki anak balita. Pemilihan sasaran ini sangat strategis mengingat periode 1000 hari pertama kehidupan (HPK) menjadi masa krusial dalam mencegah stunting.
Dalam paparannya, narasumber menjelaskan bahwa stunting bukan sekadar masalah tinggi badan anak yang pendek, melainkan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis. “Dampak stunting tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga mempengaruhi perkembangan kognitif dan produktivitas anak di masa mendatang. Oleh karena itu, pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan dengan memastikan asupan gizi ibu yang adekuat,” jelas Edith Frederika.
Para peserta mendapat pemahaman mendalam tentang pentingnya gizi seimbang, ASI eksklusif selama enam bulan pertama, serta pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang tepat. Narasumber juga menekankan pentingnya pemantauan rutin pertumbuhan anak melalui posyandu dan menjaga sanitasi lingkungan.

Ketua Penggerak ibu PKK Kelurahan Tlogopojok, Dian Anggraeni, sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh kelompok BBK 7 UNAIR Tlogopojok di bidang kesehatan dengan penyuluhan SIGAP Stunting yang sangat bermanfaat bagi elemen-elemen yang menjadi bagian dari tingginya tingkat kejadian Stunting di Kelurahan Tlogopojok. “Alhamdulillah kegiatan pencegahan stunting memberikan wawasan dan pemahaman yang sangat bermanfaat bagi masyarakat Tlogopojok tentang pentingnya gizi dan pola asuh anak sejak dini. Kami merasa lebih termotivasi untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan stunting di wilayah Tlogopojok, dan sangat menambah ilmu manfaat bagi ibu-ibu kader Tlogopojok,” ungkap Dian Anggraeni.
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan seputar praktik pemberian nutrisi yang baik dan cara mengatasi kendala dalam pemenuhan gizi anak. Kegiatan ini juga dilengkapi dengan sesi tanya jawab sebagai bentuk diskusi dan evaluasi interaktif mengulas permasalahan stunting di Tlogopojok. “Para undangan yang terdiri dari remaja, ibu hamil, ibu menyusui, hingga wanita produktif hadir dengan penuh semangat dan berpartisipasi aktif selama kegiatan. Bukan hanya para ibu, tetapi terdapat peserta bapak-bapak yang datang bersama anak balitanya, itu merupakan sebuah bukti bahwa warga Tlogopojok sangat antusias dan menerima program ini dengan baik,” ujar Eva Feliana Maelani, Mahasiswa D4 Teknologi Laboratorium Medik, selaku penanggung jawab program SIGAP Stunting.

Pada akhir acara, Dian Anggraeni juga menyampaikan banyak terima kasih kepada kelompok BBK 7 UNAIR Tlogopojok atas kesempatan, wadah, dan ilmu yang telah dibagikan bersama narasumber kepada masyarakat Kelurahan Tlogopojok. Ia berharap dengan telah dilaksanakannya kegiatan penyuluhan stunting ini, tingkat kejadian stunting di Kelurahan Tlogopojok semakin menurun dan balita menjadi sehat dan sesuai dengan usianya.
Melalui kegiatan SIGAP Stunting, BBK 7 Tlogopojok berharap dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat dalam upaya pencegahan stunting. Kolaborasi antara Perguruan Tinggi, Pemerintah Kelurahan, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif, sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3: Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik untuk memastikan kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua usia. (aa)