

LAMONGAN | brigadepasopati.com – Permasalahan sampah rumah tangga, khususnya sampah organik, masih menjadi salah satu isu lingkungan yang kerap ditemui di Desa. Sampah jenis ini biasanya dibuang tanpa pengolahan terlebih dahulu, sehingga menimbulkan potensi pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan. Melihat problematika tersebut, Mahasiswa BBK 7 Universitas Airlangga menginisiasi program sosialisasi SIKOMPOS (Sistem Inovasi Kompos Organik) di Balai Desa Kebalandono, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, pada Selasa (27/1/2026). Program ini memiliki tujuan untuk memberikan edukasi kepada warga dalam upaya mengurangi volume sampah rumah tangga dan mendorong warga untuk memanfaatkan sampah tersebut menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna.
“Program ini melibatkan perwakilan empat Kelompok Tani di Desa, meliputi kelompok tani Sri Rejeki 1, Sri Rejeki 2, Sri Rejeki 3, dan Tani Mulyo, serta perangkat Desa setempat dengan Mahasiswa BBK 7 yang berperan sebagai fasilitator,” jelas salah satu perwakilan tim Mahasiswa BBK 7 UNAIR. Pada sesi penyampaian materi, Mahasiswa BBK 7 UNAIR memaparkan beberapa hal yang berkaitan dengan kompos organik, meliputi urgensi pengolahan sampah rumah tangga bagi lingkungan, manfaat, serta alat dan bahan yang digunakan dalam mengolah kompos. Materi tersebut kemudian dipraktikkan pada sesi demonstrasi, di mana Mahasiswa BBK 7 UNAIR memperlihatkan tahapan pembuatan kompos organik dari alat dan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, seperti galon air mineral yang tidak terpakai, sampah basah, sampah kering, tanah, cairan EM4, dan gula.

Perwakilan Kelompok Tani sebagai partisipan menyimak materi yang dipaparkan dan secara aktif mengikuti sesi demonstrasi. Dalam beberapa kesempatan, partisipan tersebut juga mengajukan beberapa pertanyaan terkait teknis pembuatan kompos kepada Mahasiswa dan turut mencoba secara langsung cara penyusunan kompos tersebut. Inisiatif ini mendapatkan dukungan dari perangkat Desa Kebalandono yang turut terlibat dalam sosialisasi. “Penduduk Desa Kebalandono mayoritas bermata pencaharian di bidang pertanian, kami menyambut baik kegiatan ini agar dapat diterapkan oleh masyarakat Desa,” ungkap Dasrun, Kepala Desa Kebalandono, pada sesi sambutannya.
Sosialisasi pengolahan kompos organik melalui SIKOMPOS diproyeksikan dapat memberikan berbagai dampak positif pada warga, di antaranya mengurangi volume sampah rumah tangga dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah sampah secara mandiri dan berkelanjutan. Diharapkan, program semacam ini dapat berlanjut setelah kegiatan BBK 7 UNAIR berakhir dan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat hingga tahun-tahun yang akan datang.

“Program SIKOMPOS ini mendukung SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan, dan SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab,” ujar Ketua Tim Mahasiswa BBK 7 UNAIR. (ryp)