

LAMONGAN | brigadepasopati.com – Mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 Universitas Airlangga (UNAIR) berkolaborasi dengan 9 volunteer Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA) UNAIR dalam pelaksanaan program kerja Posyandu Lansia di Desa Kesambi, Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan, pada Selasa (20/1/2026). Kegiatan ini menyasar 25 lansia dari 10 RT dan seluruh kuota peserta berhasil terpenuhi.
“Program Posyandu Lansia ini dilaksanakan sebagai respons atas kondisi lansia di Desa Kesambi yang masih menghadapi sejumlah permasalahan kesehatan,” jelas salah satu perwakilan tim Mahasiswa BBK 7 UNAIR. Sebagian lansia belum rutin melakukan pemeriksaan kesehatan akibat keterbatasan mobilitas, kekhawatiran terhadap hasil pemeriksaan, serta rendahnya pemahaman mengenai penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, dan gangguan asam urat.
Dalam menghadapi permasalahan tersebut, Mahasiswa BBK 7 UNAIR bersama volunteer CIMSA UNAIR menghadirkan layanan kesehatan lansia berbasis komunitas yang lebih inklusif, preventif, dan promotif. Untuk memastikan keterjangkauan layanan, Mahasiswa BBK 7 Desa Kesambi secara aktif menjemput lansia langsung ke rumah, khususnya bagi lansia yang sudah mengalami keterbatasan berjalan jauh.
Pelaksanaan Posyandu Lansia dirancang dengan alur pelayanan berbasis meja pemeriksaan. Lansia menjalani pemeriksaan tekanan darah (tensi), pemeriksaan gula darah (glukosa), dan pemeriksaan asam urat (uric acid), yang kemudian dilanjutkan dengan meja konsultasi kesehatan. Setiap meja diisi oleh tiga volunteer CIMSA UNAIR yang merupakan Mahasiswa Kedokteran, dengan pendampingan tiga lansia secara bergiliran, sehingga pelayanan dapat berlangsung tertib, aman, dan personal. “Iya, aku wedi, mbak, nek misal priksa nang Polindes utawa nang Puskesmas. Wedi-ne iku lara tenan,” ucap Hj. Umi, salah satu lansia peserta kegiatan. Pengakuan tersebut menggambarkan masih adanya hambatan psikologis yang dialami lansia dalam mengakses layanan kesehatan formal, terutama rasa takut mengetahui kondisi tubuhnya sendiri.
Rasa cemas itu menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan Posyandu Lansia. Oleh karena itu, Mahasiswa BBK 7 UNAIR tidak hanya menghadirkan layanan pemeriksaan, tetapi juga membangun suasana yang lebih akrab dan menenangkan. Lansia didampingi sejak awal kedatangan, dijelaskan setiap tahapan pemeriksaan secara sederhana, serta diberi ruang untuk bertanya tanpa merasa dihakimi. Pendekatan ini perlahan mengubah kegiatan pemeriksaan kesehatan menjadi pengalaman yang lebih ramah dan dapat diterima.

Menurut Allyssa Nur Shanty, Penanggung Jawab Program Kerja Posyandu Lansia, pendekatan berbasis komunitas menjadi kunci dalam pelaksanaan kegiatan ini. “Kami ingin layanan kesehatan hadir lebih dekat dan tak menimbulkan rasa takut di masyarakat, dalam hal ini terutama lansia. Pendampingan langsung dan komunikasi yang hangat kami jadikan cara untuk memahami dan mengabdi pada masyarakat,” ujar Allyssa.
Dampak dari pendekatan tersebut mulai terlihat dari meningkatnya pemahaman dan kewaspadaan lansia terhadap kondisi kesehatan serta pola konsumsi harian mereka. Kesadaran ini muncul secara spontan setelah lansia mengetahui hasil pemeriksaan masing-masing. “Mbak, kolak-e gula-ne sepira? Soale iki mau ngetes diabet-ku dhuwur,” kata Nurlaila, salah satu pasien lansia, yang menunjukkan mulai tumbuhnya perhatian terhadap asupan gula
dalam makanan sehari-hari.
Selain mendukung jalannya pemeriksaan, Mahasiswa BBK 7 UNAIR berperan dalam persiapan teknis kegiatan, pencatatan administratif hasil pemeriksaan, serta pendampingan lansia selama kegiatan berlangsung. Kolaborasi dengan CIMSA UNAIR memungkinkan layanan kesehatan diberikan secara komprehensif, edukatif, dan selaras dengan kebutuhan nyata masyarakat Desa Kesambi. (all/aa)