

SURABAYA | brigadepasopati.com — Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR) menegaskan komitmennya dalam mencetak generasi entrepreneur muda berdaya saing global melalui penyelenggaraan Entrepreneur Day bertema “Empowering Young Entrepreneurs to Shape the Future”. Kegiatan yang digelar di Aula Fadjar Notonegoro, pada Jum’at (13/2/2026) ini menjadi momentum strategis kolaborasi antara akademisi, Pemerintah Daerah, dan mitra internasional, dengan menghadirkan Wali Kota Surabaya serta Duta Besar Swedia untuk Indonesia.
Acara yang dihadiri lebih dari 500 Mahasiswa tersebut secara resmi dibuka oleh Dekan FEB UNAIR, Prof. Dr. Rudi Purwono, sebagai penanda dimulainya Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 sekaligus peluncuran program FEBpreneur dan Career Day.

Ketua Unit Kewirausahaan, Magang, dan Relasi Industri (UKMRI) FEB UNAIR, Dr. Dien Mardhiyah, SE., M.Si., menyampaikan bahwa program FEBpreneur dirancang sebagai respons atas visi Universitas Airlangga menuju World Entrepreneur University. Program ini akan diselenggarakan secara rutin dua kali setiap bulan sebagai ruang pembelajaran aplikatif yang mempertemukan Mahasiswa dengan praktisi, pelaku usaha, pemimpin daerah, dan mitra global. “Hari ini adalah momentum luar biasa bagi FEB UNAIR. Program ini dihadirkan untuk mencetak entrepreneur muda level dunia melalui dialog langsung, inspirasi nyata, dan pengalaman strategis yang relevan dengan kebutuhan zaman,” ujar Dr. Dien Mardhiyah.
Sarasehan menghadirkan Wali Kota Surabaya, Dr. Eri Cahyadi, S.T., M.T., sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, Wali Kota Surabaya menekankan bahwa rasio pengusaha Indonesia yang masih berada di kisaran 3,47 persen perlu terus ditingkatkan agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Menurut Eri Cahyadi, di tengah transformasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan, terdapat dua nilai fundamental yang tidak dapat tergantikan oleh teknologi, yakni kepemimpinan dan empati. “Teknologi adalah alat untuk transparansi dan efisiensi. Namun yang menggerakkan ekonomi adalah manusia yang mampu berkolaborasi, memiliki empati, dan berani mengambil risiko,” tandas Wali Kota Surabaya.

Eri Cahyadi juga memaparkan berbagai capaian ekonomi Kota Surabaya, di antaranya fasilitasi 57.643 usaha rintisan dalam pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) serta pendampingan terhadap 16.231 UMKM melalui akses digital, sertifikasi halal dan merek, pembiayaan, hingga promosi ke pasar internasional. Dan melalui konsep Placemaking Surabaya 2024 sebagai proses kolaboratif lintas disiplin yang mengintegrasikan ekonomi, seni, teknik, infrastruktur, dan keberlanjutan.
Melalui pengembangan 46 Kampung Tematik yang digerakkan anak muda, serta penguatan sarana distribusi perdagangan seperti pasar berstandar SNI, Sentra Wisata Kuliner (SWK), dan Kios TPID, Pemerintah Kota Surabaya mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas. Dan Wali Kota Surabaya menegaskan bahwa UMKM yang menopang sekitar 90 persen perekonomian Surabaya merupakan bukti bahwa kekuatan ekonomi lahir dari keberpihakan, gotong royong, dan kepemimpinan yang berorientasi pada masyarakat.
Kemudian kegiatan Entrepreneur Day dilanjutkan dengan Guest Lecture oleh Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Daniel Blockert, yang dimoderatori oleh Wakil Dekan III FEB UNAIR, Novrys Suhardianto, SE., MSA., Ak., Ph.D. Dalam kuliah umum bertema “Healthy Trade, Healthy People”, Dubes Daniel menegaskan komitmen Pemerintah Swedia dalam memperkuat kerja sama strategis dengan Indonesia di bidang perdagangan internasional, kesehatan global, dan pembangunan berkelanjutan.
Dubes Daniel menekankan bahwa hubungan diplomatik Indonesia–Swedia yang telah terjalin selama 75 tahun menjadi fondasi kuat untuk memperluas kolaborasi di berbagai sektor strategis. “Indonesia adalah negara yang sangat penting secara strategis, baik dari sisi ekonomi, populasi, maupun perannya di Asia Tenggara. Swedia memiliki ketertarikan besar untuk memperdalam kolaborasi jangka panjang dengan Indonesia,” kata Dubes Daniel.
Dalam konteks perdagangan dan investasi, Dubes Daniel menyoroti pentingnya keterbukaan ekonomi dan keterhubungan dengan rantai nilai global. Menurutnya, standar keberlanjutan dan emisi tinggi, termasuk dalam kerja sama dengan Uni Eropa, bukanlah hambatan, melainkan peluang jangka panjang bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing dan menarik investasi berkualitas.
Di bidang kesehatan, Dubes Daniel menegaskan bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia sekaligus fondasi pembangunan ekonomi dan keamanan global. Swedia, menurutnya, secara konsisten mendukung kerja sama multilateral, termasuk dengan World Health Organization, serta berbagai inisiatif kesehatan global yang aktif di Indonesia.

Lebih lanjut Dubes Daniel juga memaparkan perkembangan PHD Twinning Program antara Swedia dan Universitas Airlangga yang telah berjalan sejak penandatanganan nota kesepahaman pada Juni 2024. Program ini mencakup kolaborasi riset dan pendidikan doktoral di bidang Emergency and Critical Care, dengan fokus pada peningkatan kapasitas penanganan kegawatdaruratan serta kesehatan ibu dan anak.
Menutup pemaparannya, Dubes Daniel mendorong Mahasiswa untuk memanfaatkan peluang riset dan akademik terkait kerja sama ekonomi Indonesia–Uni Eropa (CEPA), yang dinilainya akan membawa dampak signifikan bagi masa depan ekonomi Indonesia. “Jika saya adalah Mahasiswa ekonomi hari ini, saya akan menjadikan kerja sama Indonesia–Uni Eropa sebagai topik penelitian utama karena dampaknya akan sangat besar bagi masa depan ekonomi Indonesia,” pungkas Duta Besar Swedia untuk Indonesia.
Melalui sinergi antara akademisi, Pemerintah Daerah, dan mitra internasional, FEB UNAIR menegaskan perannya sebagai motor penggerak lahirnya entrepreneur muda yang tidak hanya kompetitif secara global, tetapi juga adaptif, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi pembangunan kota, bangsa, dan komunitas global. (aa)