

BANDUNG | brigadepasopati.com – Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) menyelenggarakan Workshop dan Galeri “Abhinaya” Pemulihan Pasca Bencana Sumatra, pada Senin (12/1/2026) di Aula Timur ITB dan Galeri Soemardja.
Agenda ini merupakan kolaborasi dengan Ikatan Alumni (IA) ITB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta sejumlah Perguruan Tinggi mitra di wilayah terdampak bencana. Lebih dari sekadar kegiatan seremonial, forum ini menjadi wadah untuk menyatukan visi dan strategi dalam fase rehabilitasi serta rekonstruksi pascabencana. Tujuannya adalah memastikan kontribusi Perguruan Tinggi tidak berhenti pada bantuan darurat, tetapi berlanjut pada intervensi pemulihan jangka panjang yang berbasis sains dan data.
Dalam upaya pemulihan tersebut, ITB mengambil peran sebagai supporting university. Kontribusi yang diberikan tidak hanya berupa bantuan logistik, tetapi juga pendampingan berbasis data untuk mendukung rehabilitasi yang tepat sasaran dan berkelanjutan.
Ketua Satuan Tugas (Satgas) ITB untuk Pemulihan Sumatera, Dr. Saut Sagala, menjelaskan bahwa ITB berperan menyediakan landasan ilmiah bagi kebijakan Pemerintah Daerah dan Perguruan Tinggi setempat, terutama melalui analisis data geospasial serta penataan Daerah Aliran Sungai (DAS).
“Tantangan terbesar saat ini adalah curah hujan yang masih tinggi, sehingga potensi bencana susulan tetap ada. Oleh karena itu, penanganan harus dilakukan secara terintegrasi antara wilayah hulu dan hilir. Kerusakan di hilir tidak dapat diselesaikan secara parsial berdasarkan batas administrasi, melainkan harus dibarengi dengan pembenahan ekosistem di wilayah hulu,” ujar Dr. Saut Sagala.
Melalui integrasi data satelit dan pemetaan risiko bencana, ITB memberikan rekomendasi tata ruang yang lebih aman. Pendekatan ini bertujuan agar proses rekonstruksi tidak sekadar membangun kembali, tetapi membangun dengan lebih baik (build back better) di kawasan yang memiliki tingkat risiko lebih rendah terhadap bencana berulang.

Selain kontribusi strategis pada tingkat kebijakan, peran ITB juga dirasakan langsung oleh masyarakat melalui penerapan teknologi tepat guna yang melibatkan alumni dan mitra di lapangan.
Di Provinsi Aceh, kolaborasi dengan IA ITB Pengurus Daerah Aceh difokuskan pada upaya penyelamatan sektor pertanian sebagai penopang ekonomi masyarakat. Alih-alih memberikan bantuan konsumtif, tim terjun langsung untuk menyelamatkan perkebunan jeruk pamelo, yang merupakan komoditas unggulan Kabupaten Bireuen, kini terancam rusak akibat timbunan lumpur pascabanjir.
“Kami menerapkan teknik penggalian leher akar. Lumpur padat yang menimbun pangkal pohon digali secara hati-hati agar tanaman dapat kembali bernapas dan terhindar dari pembusukan batang,” ungkap perwakilan IA ITB Pengda Aceh. Upaya ini dilengkapi dengan program penanaman padi gogo di lahan sawah yang mengalami gangguan irigasi, sebagai langkah pemulihan ekonomi petani dalam jangka waktu sekitar enam bulan.
Sementara itu, di Sumatera Utara, ITB bekerja sama dengan Rumah Amal Salman menghadirkan solusi atas keterbatasan akses air bersih. Ketua Umum Yayasan Rumah Amal Salman, Mipi Ananta Kusuma, menjelaskan bahwa timnya merakit Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mobile langsung di lokasi bencana di Medan, alih-alih mengirimkan unit jadi dari luar daerah.
“Instalasi ini dilengkapi dengan jaringan perpipaan yang terhubung langsung ke hidran umum di sekitar permukiman. Fokus kami adalah memastikan kemudahan akses, sehingga warga, terutama kelompok rentan, tidak perlu berjalan jauh untuk mendapatkan air bersih karena sumbernya kini tersedia di dekat tempat tinggal mereka,” tutup Mipi Ananta. (*)