
JAKARTA | brigadepasopati.com – Partai Golkar yang saat ini menghadapi beberapa tantangan, diantaranya harus meningkatkan elektabilitas dan mempersiapkan pemenangan Pemilihan Umum 2029 serta harus segera menyudahi konflik internal merupakan dinamika politik internal partai yang harus dikelola dan menjadikan soliditas para kader dalam menghadapi Pemilu 2029.
Ada dorongan yang tertuju kepada putri sulung Presiden ke-2 RI Soeharto, yaitu Siti Hardiyanti Rukmana untuk menakhodai Parpol berlambang pohon beringin guna menggantikan posisi Bahlil Lahadalia merupakan upaya untuk menyudahi konflik internal dan mengkonsolidasikan partai untuk meningkatkan elektabilitas dalam menghadapi Pemilu 2029.
Salah satu Ormas yang menyatakan sikap adalah Citos Indonesia (Cinta Soeharto Sejati, red) Gus Huda, ST. sebagai Ketua Umum dan Dr. Wahyu Widi Sasongko, M.Sc., LL.M , Ph.D. mendukung penuh Pembina Citos Indonesia Siti Hardiyanti Rukmana atau yang akrab disapa Mbak Tutut untuk maju memimpin Partai Golongan Karya (Golkar, red) untuk menggantikan Bahlil Lahadalia yang sekarang menjadi Ketua Umum Partai Golkar.
Dengan berbagai pengalaman Mbak Tutut di kancah politik bisa menjadikan Partai Golkar menjadi lebih baik lagi dalam menghadapi dinamika politik menjelang dan pada Pemilu 2029. ”Partai Golkar membutuhkan pemimpin yang memiliki strong leadership untuk memimpin partai dan meningkatkan elektabilitasnya,” tegas Gus Huda, ST. Ketua Umum Citos Indonesia di bilangan Jakarta, pada Sabtu (23/8/2025).
Lebih lanjut Gus Huda, menyampaikan beberapa kriteria pemimpin yang dapat membawa Partai Golkar lebih baik dan siap menghadapi kontestasi Pemilu 2029. “Ada beberapa kriteria yang dibutuhkan oleh pemimpin Golkar saat ini yaitu memiliki kemampuan mengambil keputusan tegas. Karena pemimpin harus dapat mengambil keputusan yang tepat dan strategis untuk kepentingan partai. Kemudian, memiliki kemampuan mengelola konflik, dan bukan melakukan pencitraan. Selain itu, pemimpin harus dapat mengelola konflik internal partai dan meningkatkan solidaritas antar kader. Dan yang terakhir adalah memiliki kemampuan mengembangkan strategi. Karena pemimpin harus dapat mengembangkan strategi yang efektif untuk meningkatkan elektabilitas partai, kesemuannya ada pada diri Mbak Tutut,” jelas Gus Huda.
Ditambahkan oleh Sekretaris Jenderal Citos Indonesia, Dr. Wahyu Widi Sasongko, M.Sc., LL.M., Ph.D. bahwa Mbak Tutut yang merupakan Pembina Citos Indonesia jika memimpin Partai Golkar maka Citos Indonesia akan mendukung penuh Mbak Tutut karena merupakan pemimpin ideal yang memiliki strong leadership dan mampu memimpin dalam dinamika Partai Golkar serta pasti mendukung Presiden Prabowo pada Pemilu 2029. “Mbak Tutut merupakan pemimpin yang memiliki kemampuan mengambil keputusan yang bagus, bisa mengelola konflik, dan mengembangkan strategi dan dapat membawa partai ke arah yang lebih baik. Dengan demikian, Golkar dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dan memenangkan Pemilihan Umum 2029,” ungkap Wahyu.
Menurut beberapa kalangan dan tokoh masyarakat, seorang pemimpin yang memiliki strong leadership dapat membawa partai ke arah yang lebih baik dan meningkatkan kepercayaan masyarakat.
Terkait dengan hal tersebut Charles Edward Tumbel, yang merupakan mantan pengurus Partai Golkar dan Tokoh Pemuda Jawa Timur, sangat antusias dan mendukung Mbak Tutut sebagai nahkoda Partai Golkar karena memiliki pengalaman yang teruji dan merupakan darah biru Partai Golkar. “Mbak Tutut yang merupakan putri tertua dari Alm. Presiden Kedua kita, H.M. Soeharto, amat cocok menjadi nahkoda di Partai Golkar. Di samping lantaran pengalaman politiknya yang sangat luas, juga karena Mbak Tutut adalah pribadi yang bijaksana, plus “Darah Biru” di dalam tubuh Golkar. Aneh malahan apabila Mbak Tutut tidak menjadi nahkoda dari partai yang didirikan oleh Bapaknya sendiri. Apalagi jikalau hal tersebut menjadi dambaan masyarakat, terutama yang merindukan figur Alm. Pak Harto,” tegas Charles E. Tumbel, pada Minggu (24/8/2025). (*)