160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Dosen FPK UNAIR Soroti Ledakan Ikan Sapu-Sapu, Alarm Ekologi Dari Sungai Tercemar

750 x 100 AD PLACEMENT

SURABAYA | brigadepasopati.com – Dr. Veryl Hasan, S.Pi., MP., Dosen Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) menyoroti fenomena menjamurnya ikan sapu-sapu di berbagai sungai perkotaan. Khususnya wilayah dengan tingkat pencemaran tinggi seperti di Jakarta. Menurutnya, keberadaan ikan tersebut sebenarnya tidak terbatas di satu wilayah tertentu, sebab ikan sapu-sapu mampu hidup di banyak perairan. Namun, spesies ini menjadi sangat dominan di sungai tercemar karena memiliki daya tahan tinggi terhadap kondisi lingkungan buruk.

Dr. Veryl Hasan menjelaskan, pada sungai dengan kualitas air yang rusak, banyak ikan lokal tidak mampu bertahan hidup. Sebaliknya, ikan sapu-sapu justru tetap hidup dan berkembang pesat. “Singkatnya, ketika sungai tercemar berat, ikan lain mati, sementara sapu-sapu tetap bertahan. Itu yang membuat populasinya tampak meledak,” ujar Dr. Veryl Hasan, pada Senin (20/4/2026).

Dosen Akuakultur FPK UNAIR tersebut menuturkan bahwa ikan sapu-sapu berasal dari Amerika Selatan dan di habitat alaminya merupakan ikan lokal biasa yang bahkan aman dikonsumsi masyarakat setempat. Persoalan muncul ketika spesies tersebut masuk ke perairan Indonesia sebagai spesies asing tanpa predator alami yang memadai.

750 x 100 AD PLACEMENT

Selain tahan terhadap lingkungan buruk, ikan sapu-sapu juga dikenal sebagai predator oportunis. Ikan ini memanfaatkan hampir seluruh sumber daya yang tersedia di sungai. Mulai dari tumbuhan air hingga hewan berukuran kecil. Kehadirannya membuat persaingan semakin berat bagi ikan lokal dalam memperoleh makanan maupun ruang hidup. “Ketika berada di luar habitat aslinya, sapu-sapu dapat menggeser keberadaan ikan lokal. Karena sedikit organisme yang memangsa, populasinya tumbuh tanpa hambatan berarti,” jelas Dosen Akuakultur FPK UNAIR. Lebih lanjut Dr. Veryl Hasan menambahkan, di perairan sehat populasi sapu-sapu biasanya tidak terlalu dominan karena harus bersaing dengan beragam ikan lokal lainnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dr. Veryl Hasan menekankan pentingnya penegakan regulasi terkait larangan pelepasan ikan asing ke sungai. Menurutnya, aturan tidak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi harus diikuti pengawasan dan tindakan nyata di lapangan.

Selain itu, kualitas air sungai perlu dipulihkan melalui pengendalian pencemaran. Jika kondisi sungai membaik, lebih banyak ikan lokal dapat hidup dan kembali menyeimbangkan ekosistem. “Kunci utamanya bukan hanya menangkap sapu-sapu, tetapi juga memperbaiki habitat sungainya,” tutur Dr. Veryl Hasan.

Sebagai langkah tambahan, Dr. Veryl Hasan menyarankan pemberantasan manual dengan menangkap ikan sapu-sapu dan memanfaatkannya sebagai bahan baku tepung ikan untuk pakan ikan hias. Dosen Akuakultur FPK UNAIR itu juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan melepas ikan eksotik ke alam bebas. “Jika tidak mampu merawat, lebih baik dijual kepada penghobi yang bertanggung jawab atau dimusnahkan dengan benar, jangan dilepas ke sungai,” pungkas Dr. Veryl Hasan. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kamu mungkin juga suka
930 x 180 AD PLACEMENT